Masa Muda, Emosi, dan Esensi
Masa Muda, Emosi, dan Esensi
“Awas lho ya nanti beneran kejadian.”
Kata kata itu terlontar oleh wanita yang sangat saya kagumi dan cintai, anggap saja Mawar. Saat saya menyanyikan lagu mendiang Bung Glenn yang berjudul “Januari”. Saya sempat bercanda pada Mawar soal lagu itu, entah mengapa. Saya hanya bercanda.
Beberapa bulan kemudian, saya melihatnya dengan pria lain. Dengan katanya, “saya ingin menikmati waktu saya bersama teman-teman,” Jelas memang bukan saat Januari kami berpisah. Tepatnya Desember. Tapi butuh waktu yang lebih dari “satu” Januari bagi saya untuk melepaskan dia. Hari – hari bagi saya seperti gelap tanpanya, saya sepertinya kehilangan sesuatu, tapi entah bagaimana, saya tak dapat menjelaskannya, apa yang hilang dari saya. Mawar, telah menjadi bagian dari dalam diri saya, membentuk sebagian kecil dari diri saya sekarang.
Saat saya dengan Mawar, saya pikir, dialah satu-satunya itu. “Dialah yang akan mengisi hari tua saya nanti..” ucapku dengan angkuh. Ucapku dengan ceroboh.
Berbulan-bulan setelah itu, saya seolah memarahi diri karena pernyataan itu. Ternyata bukan dia. Ternyata memang bukan. Seolah kadang kita bertemu, hati bersatu, tapi memang harus hancur, dan menyadari kalau kita hanya menjadi bagian kecil dari pembentuk diri masing-masing. Cinta itu saya kira sudah paling indah. Pun nyatanya tidak. Saya bertemu dengan wanita-wanita lain yang jauh lebih dari Mawar. Jauh lebih mendebarkan deh pokoknya.
Tuhan tahu persis isi hati saya. Saya berteriak meminta, bahwa Mawar-lah yang menjadi milik saya selamanya. Teriakan saya tidak didengar. Apakah Tuhan jahat? Tentu tidak. Ternyata nama yang paling keras saat saya teriakan dalam doa saya, menjadi luka yang paling dalam di hidup saya. Cerita cinta tidak seindah apa yang ada di depan layar, maupun dongeng atau fantasi lain.
Seringkali saya menghabiskan waktu untuk berdoa di dalam kamar. Entah tangis mengenai dosa atau kesalahan lalu saya, Mawar, dan banyak lain. Kadang juga hanya diam, entah merenungi masa lalu, mengandaikan kebaikan di masa depan, dan juga banyak lain. Kecintaan saya pada Tuhan meledak-ledak. Sampai pada saatnya, kecintaannya berbuah ketakutan yang besar.
“Kalau nanti Tuhan gasuka bagaimana?”
“Ayo Jer, jangan kaya gitu, nanti Tuhan marah lho!”
“Sudah Jer jangan begitu!”
Setiap teriakan ini membuat saya takut, sampai saya tidak dapat membedakan mana yang menjadi suara saya dan yang imaji saja. Selama 4 jam saya di kamar. Duduk, bongkok sana-sini, ketakutan. Saya ketakutan. Saya memasang ekspetasi besar pada diri untuk memuaskan Tuhan. Saya ingin menyenangkan Dia. Tapi yang ada malah takut yang beriak-riak. Bertahun-tahun lamanya saya hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Sampai-sampai saya malu jika harus dilihat oleh teman saya.
Lama kemudian, saya menyadari. Seperti cahaya yang masuk pada gua, linglung namun seketika sadar, seperti itulah saya saat itu.
Dan sekarang, saya mengambil langkah yang entah mengapa sangat ceroboh. Saya marah pada diri sendiri, karena telah menjadi orang yang sangat bodoh dan ceroboh. Saya sangat berdoa, bahwa ini semua dari rancangan baik-Nya.
Masa muda, emosi dan esensi. Ketiganya merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan. Masa muda, menjadi masa yang keras dan menekan bagi saya. Penuh emosi yang mengalir kencang, alurnya entah kemana. Esensi mungkin menjadi hilir bagi alur emosi yang kencang di masa muda ini. Esensi siapa kita, apa yang kita pegang teguh, kemana kita melangkah, dan semua pertanyaan itu.
Dimana pun kamu sekarang, percayalah itu gaakan jauh-jauh dari dirimu nanti. Tuhan memang mahir menciptakan segalanya. Dan yang kutahu, ia juga menciptamu bukan? Ia pasti juga akan bertanggung jawab akan hidupmu.
Saya mohon. Take a little step,(just a little), and have faith. Will you?
Komentar
Posting Komentar